Rabu, 04 November 2020

Doa Bapa Kami (Matius 6:9-13)

Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya Amin. A. Bagian Pertama Tuhan Yesus mengajar kita menyapa Dia sebagai "Bapa kami yang di sorga". "Bapa kami", merujuk aktivitas Allah sebagai Pelindung, Penebus, Pencipta. Untuk menjadi anak-anak Allah, manusia harus menerima Allah sebagai Allah yang hidup. Ketika menerima dan memiliki-Nya sebagai Sumber Hidup, mereka dilahirkan dari Dia; Dia menjadi Bapa mereka. Kata-kata "yang di sorga" bukan mengacu kepada tempat Ia bertakhta, melainkan menekankan keilahian, otoritas, kepada wibawa serta kuat kuasa yang dimiliki-Nya, selaku Khalik dan Penguasa atas segala sesuatu yang ada. "Dikuduskanlah namaMu", pengungkapan ini ialah suatu doa supaya Allah dihormati / dimuliakan dan diakui oleh manusia. Konsep "kudus" dalam menekankan pada pemisahan antara dunia dan Allah. Kekudusan inilah yang membedakan antara orang Kristen (sejati) dengan orang non-Kristen. Kedua-duanya (Kristen dan non-Kristen) dapat berbuat baik, yang membedakannya adalah kekudusan di dalam Kristus. "Datanglah kerajaan-Mu" Ini adalah suatu doa supaya Allah memerintah. Memang Allah sudah memerintah, tetapi ada banyak orang yang tidak mengakuiNya sebagai Raja. Kerajaan Allah adalah kerajaan yang mengakui ke-Raja-an-Nya, kerajaan dalam mana Ia memerintah sebagai Raja. "Jadilah kehendak-Mu", berlawanan dengan kehendak kita sendiri yang seringkali penuh ketololan (selalu mau menang sendiri dan 'ngambek ' kalau kehendaknya tidak jadi). Namun, dalam kebudayaan alternatif kristiani prioritas paling top bukan nama, kerajaan dan kehendak kita, melainkan Nama, kerajaan dan kehendak Allah. Kehendak Allah adalah 'baik dan sempurna' (Roma 12:2), sebab merupakan kehendak dari 'Bapa yang di sorga', yang tak terukur pengetahuan, kasih serta kuat kuasa-Nya. Karena itu adalah bodoh jika menolaknya, dan bijaksana jika menyimak, merindukan dan melaksanakannya. B. Bagian Kedua Pada bagian kedua ini, merujuk kepada kebutuhan-kebutuhan kita sendiri (ayat 11-12), meskipun ditaruh pada tempat yang kedua, namun disampaikan secara serasi kepada-Nya ('Berilah kami ... , ampuni kami ... , lepaskan kami ... ). Doa Bapak Kami dimulai dengan mendahulukan kemuliaan Allah dan disusul kemudian dengan kebutuhan-kebutuhan manusia. Dalam bagian kedua Doa Bapa Kami kata ganti milik berubah dari 'Mu' menjadi 'kami', karena kita beralih dari ihwal Allah ke urusan manusia. Permohonan kiranya Allah 'memberi' kita makanan (roti) kita, tentu bukan hendak menyangkal bahwa manusia harus bekerja untuk mencari nafkahnya. Bahwa petani harus mengolah lahannya, harus menabur dan menuai untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan panennya. Permohonan itu adalah pengakuan bahwa pada akhirnya kita tergantung kepada kasih karunia Allah, yang memiliki hak atas cuaca, iklim dan masa depan . Bahkan lebih dari itu, Tuhan Yesus agaknya ingin mencamkan dalam hati para pengikut-Nya bahwa ketergantungan mereka kepada Allah harus mereka sadari hari lepas hari. Istilah 'secukupnya' mengandung makna tidak serakah dalam menerima berkat Allah yang bersifat jasmani, yaitu rejeki untuk kebutuhan sehari-hari (termasuk makanan) sebagai penyambung hidup. "Ampunilah kami akan kesalahan kami", makna dari pengampunan adalah sama pentingnya bagi kehidupan dan kesehatan jiwa seperti makanan bagi tubuh. Jadi, doa berikutnya ialah, Ampunilah kami akan kesalahan kami. Dosa diibaratkan seperti 'kesalahan yang wajib dijatuhi hukuman, tapi Allah mengampuni dosa. Ia membatalkan hukuman atas kesalahan itu "Seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami". Kasih merupakan dasar bagi manusia untuk dapat mengampuni. Kasih tidak mengutamakan diri sendiri dan tidak menuntut suatu imbalan seperti Allah telah memberikan kasihNya dengan cuma-cuma. Mengampuni kesalahan orang lain memang bukanlah suatu pekerjaan mudah, karena hal itu kait-mengait dengan hati yang terdalam. Sepanjang manusia dalam hidupnya mementingkan dirinya sendiri, dan membiarkan egonya berkembang, rasanya sukar baginya untuk dapat mengampuni orang lain. Jalan satu-satunya bagi manusia untuk dapsat mengampuni orang lain ialah memberikan tempat bagi Allah dalam hatinya untuk beroperasi dan mengerahkan jalan hidupnya seperti yang dikehendaki Allah. Matius 6:12 dan Lukas 11:4 adalah doa dari anak-anak Allah yang senantiasa memohon pengampunan dan sekaligus komitment untuk senantiasa mengampuni. "Janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat". Ini bukan permintaan supaya terhindar dari pencobaan / tidak terkena pencobaan, tetapi permintaan supaya tidak jatuh ke dalam dosa pada waktu menghadapi pencobaan. Jadi, ini adalah suatu permintaan supaya Tuhan tidak mengijinkan kita untuk mendapatkan pencobaan yang akan menjatuhkan kita dalam dosa. C. Penutup Doa Bapa Kami mencakup 3 hal yaitu: 1. Yang bersifat materi (makanan sehari-hari), 2. Yang bersifat spiritual (pengampunan atas dosa) dan 3. Yang bersifat moral (kelepasan dari yang jahat). Dan setiap kali kita menaikkan doa ini, maka yang kita lakukan adalah tidak lain daripada mengatakan ketergantungan kita kepada Allah dalam semua sektor kehidupan manusiawi kita. Jadi, tidak mengherankan bahwa beberapa naskah purba termasuk naskah Textus Receptus mengakhiri doa ini dengan kidung pujian, yang menghubungkan 'Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan' dengan Allah, Sang Khalik dan Sang Pemilik kita satu-satunya. "Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin". Bagian ini sering diperdebatkan keasliannya, karena tidak ada dalam beberapa nakah salinan, maka dalam LAI-TB bagian ini diletakkan di dalam tanda kurung tegak. Kalau kita menimbang dan mengingat begitu mulia dan agung rencana Allah untuk manusia, maka tidak ada kata yang dapat diungkapkan selain seperti diungkapkan dalam kalimat akhir "karena Engkaulah yang empunya kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya". Ungkapan ini sebagai kalimat penutup yang juga menunjuk bahwa Allah melalui kuasaNya yang Mahadahsyat mampu mengadakan apa yang tidak ada menjadi ada. Ungkapan ini muncul karena terbersit rasa kagum akan keberadaan Allah yang Mahakudus dan Mahamulia itu. Seperti sudah diuraikan bahwa Doa Bapa Kami yang diajarkan oleh Tuhan Yesus bukanlah sekadar doa yang tidak mempunyai arti dan bukanlah suatu ketentuan model doa yang harus diucapkan persis dengan kata-kata dalam doa tersebut untuk dihafal atau diucapkan berulang-ulang seperti mantera. Namun dalam hal ini, Tuhan Yesus mengajarkan rumusan doa yang benar. Tuhan Yesus telah memberikan Doa Bapa Kami ini selaku 'model' doa yang riil, yaitu doa kristiani, yang sangat berbeda dari doa orang Farisi dan orang kafir. Kekeliruan orang kafir ialah sifat mereka yang acuh tak acuh. Ia hanya tahu mengoceh, mengucapkan "mantra" atau doa yang diucapkan berulang-ulang menyertakan nada suara pada ibadahnya yang tanpa makna. Ia mengucap tanpa memikirkan apa yang diucapkannya, sebab yang penting baginya adalah volume, bukan isi volume. Tapi Allah tidak terkesan oleh kata-kata. Bertentangan dengan 'doa volume' Farisi itu, Tuhan Yesus telah mengajak kita menyampaikan segala sesuatu yang kita butuhkan kepada Bapa kita yang di sorga, dan doa menjadi sarana hubungan personal antara Allah sebagai Bapa dengan anak-anakNya dan dengan berbuat demikian menyatakan kebergantungan kita kepada-Nya setiap hari. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Follow Us @soratemplates